Selasa, 27 April 2010
Jumat, 30 Januari 2009
ARI AMRI GILING

Perkembangan Karate Do Gojukai Cabang Polmas semenjak tahun 1978 hingga kini tidak akan lepas dari seorang yang bernama Ari Amri. G. ia adalah Sesepuh, Senior dan Instruktur Karate Do Gojukai Cabang Polewali Mamasa, lahir di Makassar tanggal 12 Juni 1958. Ari Amri. G. Sensei, menjabat sebagai Ketua Dewan Guru Karate Do Gojukai Cabang Polmas.
Semenjak kecil Amri memang senang pada Seni Bela Diri dan ia pernah mengakui kepada Murid-muridnya bahwa sebelum memperdalam Karate Do Gojukai ia juga pernah belajar Bela Diri Silat Tradisional, Taekwondo, Judo hingga mencapai Dan I, dan Bela diri Karate lainnya.
Setamatnya di Sekolah Tehnik Menengah ( STM ) Gunung Sari pada tahun 1976, berkat latihan beladiri yang dia pelajari semasa kecil hingga remaja, Amri diterima di Sekolah Polisi Negara ( SPN ) Batua pada tahun 1977 dan setelah lulus Amri ditugaskan langsung ke Daerah yang pada waktu itu cukup jauh dari Kota Makassar yaitu Kab. Polmas sekarang kabupaten Polewali Mandar.
Di Kab. Polmas waktu itu masih sepi dan sangat rawan akan tindak kejahatan, hampir setiap hari terjadi pencurian, perkelahian sampai pembunuhan dan kejahatan-kejahatan lainnya.
Maka sebagai seorang penegak hukum dan untuk mendekatkan diri pada masyarakat Polmas khususnya di Kec. Wonomulyo, Amri bersama seseorang yang bernama Andi Baso mulai mendirikan perguruan beladiri di tahun 1978 yang mereka beri nama Budo kai dan mempunyai murid berjumlah ratusan lebih orang.
Tidak lama kemudian Achmad Ali ( waktu itu masih Dan II ) mengirim 3 orang muridnya, antara lain :
1. Karno
2. Abdul Kadir ( Sekarang Kepala Kantor BPKD Kabupaten Mamasa )
3. Toni Zlitg
Mereka bertiga waktu itu bertingkat Kyu 4 Sabuk Biru, ditugaskan untuk mengembangkan Karate Do Gojukai di Kab. Polmas dan mengajak Amri untuk bergabung dalam wadah Karate Do Gojukai Komda Sulsel, Amri sangat setuju dengan peleburan itu, Andi Baso hanya mendukung tetapi dengan alasan pribadi tidak ingin bergabung.
Dengan peleburan itu maka mulailah Karate Do Gojukai dikenal di masyarakat Polmas dan 4 bulan kemudian diadakan Ghasuku/Ujian kenaikan tingkat yang dipimpin langsung oleh Ahmad Ali yang pada waktu itu masih berstatus Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin.
Amri yang mulai dari awal yaitu sabuk putih Kyu 10 turun Kyu ke Kyu 6 sabuk hijau dan dalam jangka waktu 2 tahun ia sudah mencapai peringkat Dan I sabuk Hitam.
Kemudian pada tahun 1982 Maha Guru Karate Do Gojukai Mendiang Hashi Gogen Yamaguchi berkunjung ke Jakarta dan mengadakan Ghasuku/Ujian tingkat Nasional.
Banyak karateka dari setiap Komda-komda se Indonesia yang ikut dalam Ghasuku/Ujian ini tak terkecuali Amri yang mewakili Komda Sulsel bersama dengan karateka-karateka Sulsel lainnya dan berhasi meraih peringkat Dan II IKGA.
Enam bulan kemudian Amri ikut Ujian kenaikan Tingkat Nasional di Jakarta dan meraih Dan III IKGA.
Di tahun 1982 Amri di beri mandat dari Shihan Ahmad Ali untuk memimpin Karate Do Gojukai di Kab. Polmas dan ditahun berikutnya diberi gelar Sensei.
Pada tahun 1985 berkat usaha kerasnya dalam mengembangkan Karate Do Gojukai dan atas dukungan Kapolres Polmas, Bapak Letkol Kosasih ( mendiang ), sensei Ari Amri berhasil mengajak hampir seluruh Anggota Polres Polmas untuk ikut dalam latihan beladiri Karate Do Gojukai.
Tahun 1995 Sensei Ari Amri mendapat tugas dari Kapolres Polmas waktu itu untuk melatih seluruh anggota Polisi di Kab. Polmas beladiri Double Stick ( cako ) dalam rangka menyambut kedatangan Kapolda Sulsel ke Kab. Polmas. Ia tidak menjadi kaget dengan tugas yang diembangnya itu, berkat latihannya selama ini dan kejeniusannya maka ia lalu menciptakan Tehnik-tehnik dan Kata yang sampai saat ini digunakan oleh seluruh anggota Polisi.
Pada waktu Kapolda Sulsel berkunjung ke Kab. Polmas dan melihat peragaan Double Stick yang dilakukan oleh anggota Polres beserta dengan beberapa Murid-murid Karate Do Gojukai Cabang Polmas, Kapolda menjadi tertarik dan memerintahkan kepada Sensei Ari Amri untuk melatih Double Stick keseluruh Polres-polres di Sulsel dan kalau perlu diseluruh jajaran Polda.
Sensei Ari Amri bersama seorang muridnya yang juga anaknya pernah dipanggil ke NTT tepatnya di Kupang untuk melatih Doble Stick, setelah pulang dari Kupang sensei Ari Amri menulis buku tentang tehnik-tehnik Double Stick sampai tiga jilid atas perintah Mabes Polri.
Sensei Ari Amri mempunyai 6 orang anak antara lain berturut turut :
1. Asfandi. G Dan III
2. Asnovian. G Dan III
3. Astri Widar Sari. G Dan II
4. Aswan Chikara. G Dan III
5. Asnur Zulfakar Giling
6. Asdwipa Septiade Giling
Mottonya yang paling sering ia katakan pada setiap Murid-muridnya adalah jangan biarkan anjing menggonggong sebelum kafilah berlalu dan jangan biarkan bola melenting, sebelum melenting tahanlah bola itu, karena apabila sudah melenting maka sulit untuk menangkapnya.�
Hingga masa hidupnya sensei Ari Amri. G masih tetap aktif mengontrol atau melatih Murid-muridnya tetapi karena kesibukannya, banyak diantara Murid-muridnya diberi kebebasan untuk mengembangkan Karate Do Gojukai keseluruh Kab. Polmas sampai ke kabupaten lainnya Contohnya Kab. Mamuju dan Kab. Mamasa.
Sensei Ari Amri Giling Meninggal Dunia pada usia 48 tahun Pada Hari Jum’at Subuh, Jam 05.00 Wita, tanggal 31 Juni 2006 di Rumah Sakit Umum Polewali, meninggalkan 1 orang Istri, 6 orang Anak dan dua orang Cucu. Dan walupun beliau telah tiada tapi sampai kini tetap menjadi suatu kenangan serta kebanggaan bagi seluruh murid-muridnya.
Kamis, 29 Januari 2009
Asnovian G, SH.
.jpg)
asnovian giling, SH. (asnovian dwidaya putra amri giling) tempat lahir di polewali kabupaten polewali mamasa sekarang polewali mandar pada tanggal 08 nopember 1980, putra kedua dari Ari Amri giling dan Syabannur H. DAN III (IKGA) dalam beladiri karate Gojukai.
Karate dapat dilihat dari dua sudut pandang. Pertama sebagai sport ( kumite ) dan kedua sebagai seni bela diri ( bodo ). Kita tidak boleh mengabaikan semangat budo ketika kita berlatih karate, sebab ini adalah aspek terpenting dan merupakan tujuan bagi atlet yang sejati, inilah sebabnya sehingga Master Chojun Miyagi selalu menekankan pada murid-muridnya bahwa karateka yang benar-benar baik selalu menekankan pengembangan dirinya baik dari segi spirit, sikap, respek dan tentu saja tehnik karatenya, sehingga menjadi seorang atlet yang baik. Jika tehnikmu dan sikapmu benar, kau akan menjai atlek yang baik.
�Di dalam pertandingan karate, menang memang tujuan akhir dan banyak orang percaya bahwa juara dalam pertandingan adalah spirit adalah karateka terbaik. Hal ini tidak selalu benar. Karateka dengan spirit tidak akan berhenti dengan menjadi juara, juara hanya suatu bagian dari usaha meningkatkan diri.pertandingan adalah suatu uji coba bagi apa yang kita ketahui. Jika kita kalah, maka kekalahan itu adalah pengalaman yang baik bagi kita dan kita belajar dari pengalaman itu dan kembali berlatih lebih keras, jadi suatu kekeliruan jika ada anggapan yang memandang pertandingan adalah segala-galanya bagi seorang karateka.
Jika kita berlatih dengan seseorang, maka pasangan kita itu adalah penolong dan bukan musuh. kita tidak boleh berpikir : “ saya lebih kuat dari dia “. Kita tidak sedang bertarung dengan orang lain. kita bertarung dengan diri sendiri. Sikap dan etika adalah penting. Kita senangtiasa harus saling menghormati.
jalan Karate Do Goju-Ryu membutuhkan pengembangan kekuatan teknik-tehnik. Namun secara menyeluruh bukan sekedar mengembangkan tehnik-tehnik , tetapi meningkatkan diri secara utuh, baik mental, fisik dan spiritual.Tentu saja bukan untuk merusak orang lain dalam pertandingan.
Kita harus membangun tendangan dan pukulan yang kuat, tetapi pada saat berlatih dengan pasangan, kita harus mampu menghentikan tendangan dan pukulan itu beberapa saat ketika akan menyentuh sasaran pada tubuh lawan ( sun-dome ). Pengendalian adalah sesuatu yang esensial dalam karate. Karate bukan untuk berkelahi. Namun demikian, tentu saja jika seseorang berbahaya memasuki rumah, dan mengancam jiwa atau kehormatan atau anak istri, tentu saja kita harus berkelahi. Tetapi hanya di dalam situasi serius di mana memang tak ada alternatif lain.
motto motto :
- menang 100 kali atas 100 pertarungan, bukan hal luar biasa. Tetapi menang satu kali tanpa bertarung adalah yang hal yang luar biasa.
- Janganlah menggunakan karate untuk melukai orang Karena Karate hanyalah alat terakhir untuk melindungi diri
- Janganlah menyakiti orang lain, dan juga jangan sampai tersakiti oleh orang lain. Segala sesuatu pikirkanlah hubungan sebab-akibatnya.
Rabu, 28 Januari 2009
ASFANDI G.
Brigadir Polisi Asfandi Giling ( Asfandi Perdana Putra Amri Giling ), lahir dipolewali Kabupaten Polewali Mamasa sekarang Polewali Mandar tanggal 29 Juni 1979, anak pertama dari Ari Amri Giling dan Syabannur H. tingkatan DAN III ( IKGA ) dalam beladiri Karate Gojukai Indonesia, pekerjaan sekarang sebagai anggota POLRI di POLDA Sulawesi Tenggara tepatnya sebagai Instruktur SPN Anggotoa Wawetobi Unaha Kendari Sulawesi Tenggara

